Harapan Rakyat Untuk Pemimpin Baru Batang Hari

Spread the love

#Catatan Putra Batang Hari#

Globalhukumindonesia.com, Jambi – Kabupaten Batanghari memiliki 2 (dua) sungai besar adalah sungai Batang Tembesi dan Sungai Batanghari dan memiliki jembatan terpanjang di Provinsi Jambi yang dibangun pada tahun 1981 – 1982 pada saat era Orde Baru dan menjadi penghubung masyarakat Batang Hari juga antar Kabupaten serta Provinsi.

Kabupaten Batang Hari yang memiliki luas wilayah 5.804,00 Km2 yang terletak di bagian tengah Provinsi Jambi dengan jumlah penduduk kurang lebih 308.249 jiwa, data tahun 2017. Mayoritas mata pencaharian penduduknya sektor pertanian dan perkebunan.

Dan tahun ini 2020 akan diadakan pemilihan kembali Bupati dan Wakil Bupati atau Pilbup Batang Hari untuk periode 2021 – 2024, semua calon menjanjikan untuk perubahan dan kemajuan Kabupaten Batang Hari seperti calon – calon sebelumnya yang sudah menjadi Petahana. Tapi apa yang dapat dibuktikan dengan janji yang diumbar setelah jadi Bupati, sangat jauh dari janji.

Kita bisa lihat infrastruktur jalan ke Desa – Desa, ada yang bertahun-tahun dibiarkan rusak, umur jalan tersebut dari sepasang sejoli menjalani kehidupan baru sebagai suami istri hingga melahirkan anak lalu si anak memasuki dunia pendidikan tapi jalan yang menjadi urat nadi perekonomian suatu Desa tidak tersentuh perbaikan dan telah menjadi kubangan yang bukan lagi kubangan babi tapi sudah jadi kubangan gajah.

Miris melihat dan merasakan infrastruktur jalan penunjang perekonomian dan kemajuan suatu daerah demi kesejahteraan rakyat diabaikan, dibiarkan rakyat menderita, apa salah mereka, apakah karena mereka salah memilih atau karena apa?…, mungkin kita semua udah tahu jawabannya atau kita pura-pura tidak tahu, entahlah hanya dunia astral mungkin yang tahu.

Rakyat harus dewasa memilih calonnya yang benar – benar bisa menjalankan tugasnya demi kesejahteraan rakyat, disini rakyat dituntut untuk jeli, jangan lagi memilih seperti sebelumnya.

Lebih miris lagi ada Desa yang mana ada wakil rakyat terpilih tinggal di Desa tersebut yang merasakan pahitnya menempuh perjalanan keluar dan masuk Desa tempat tinggalnya tapi kelihatannya Dia cuek dengan insfrastruktur jalan yang rusak berat, seakan menikmati dan tidak pernah memikirkan atau berusaha untuk bagaimana kondisi bertahun-tahun yang dinikmatinya sangat pahit bisa berubah manis dan menyenangkan, kita tunggu nyalinya untuk memperjuangankan Desa kelahirannya, tapi rasa dirasa takkan terasa ada nyali, tetap terasa bagi rakyat Desa entah kapan akan berakhir penderitaannya. Lagi-lagi siapa yang salah?…, silahkan jawab sendiri dan saya udah malas menjawabnya karena tidak akan ketemu jawabannya, semua berusaha ngeles.

Apakah yang dituliskan ini ada buktinya?…

Mari kita kunjungi Desa menuju Sungai Ruan Ilir dari Simpang Rantau Gedang, nikmati perjalanan menuju ke Desa tersebut, saya sarankan untuk menikmati suasana perjalanan agar lebih menantang gunakan kendaraan Offroad akan terasa sensasinya atau yang agak lebih ringan bisa melalui lewat Ulu yaitu jalan menuju Desa Tebing Tinggi, kondisi menuju Desa tersebut hingga kini masih dibiarkan Rusak Berat, apa dosa mereka, apa salah mereka sehingga mereka sebagai rakyat harus menderita?…

Dan ada lagi sensasi jalan yang bisa dinikmati dengan kendaraan Offroad yaitu jalan arah masuk Simpang Malapari menuju 4 Desa didalamnya yaitu jalan menuju Desa Malari, Pelayangan, Rambahan dan Napal Sisik, juga jalan masuk menuju Desa Simpang Jelutih ke Desa Olak Besar, Kecamatan Batin XXIV ini akan terasa sensasi yang tak terlupakan capeknya menempuh perjalanan ke Desa tersebut, menikmati infrastruktur jalan Rusak Parah dan akan membuat keluhan dan kekesalan bahkan sumpah serapah akan dijamin terlontarkan.

Tapi rakyat Desa Batang Hari, masyarakatnya santun – santun dan nrimo kondisi apapun yang dibuat Pemerintah, terasa kan, dimana bisa kita memberi kesan masyarakatnya nrimo keadaan karena bertahun kondisi insfrastruktur jalan rusak berat tapi tidak ada masyarakatnya yang protes atau menuntut Pemerintahan nya, kalau kita kembalikan ke undang – undang mengenai jalan yaitu Sesuai Pasal 24 ayat (1) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pemerintahnya bisa dituntut karena abai dengan infrastruktur jalan kepentingan utama masyarakatnya.

Jika ada perbaikan infrastruktur jalan di Desa tidak bertahan lama hanya paling lama 3 tahun dan selanjutnya kembali hancur, apakah para Insinyur Sipil yang ada di departemen untuk mengurusi infrastruktur jalan salah memperhitungkan?…atau ada sesuatu tujuan lain, entahlah…

Seharusnya Pemerintah Daerah harus menganalisa kenapa jalan yang dibuat ataupun yang diperbaiki tidak bertahan lama dan selalu ada anggaran perbaikan yang membutuhkan anggaran cukup besar, apakah juga jalan itu sengaja dibuat tidak tahan lama sehingga tetap ada proyek selanjutnya, jawabannya masih entahlah…

Seharusnya pemimpin nya berfikir bahwa rakyat nya berpenghasilan dari pertanian dan perkebunan yang menghasilkan produksi berton-ton dibawa oleh truk – truk melebihi kapasitas jalan dari sini Pemerintah Daerah harus merubah pola pikir pembangunan infrastruktur jalan dalam kekuatan jalan yang akan dibangun dibuat 3 kali ketahanan nya dari muatan hasil kebun atau pertanian karena para pemilik kendaraan juga tidak mematuhi aturan kekuatan jalan yang seharusnya bisa dilewati dengan hanya maksimal 8 ton tapi membawa muatan melebihi kapasitas kendaraan dan jalan hingga 12 ton, ini yang seharusnya dipikirkan Pemerintah Daerah untuk membangun infrastruktur jalan dengan 3 kali kapasitas kendaraan yang digunakan mengangkut hasil perkebunan atau pertanian juga yang lainnya.

Sangat banyak pertanyaan ada apa dan ada apa, kenapa, apa yang salah, dimana salahnya, siapa yang salah?…

Yang lebih menarik lagi nantinya, kita yakin Calon – calon yang ingin duduk orang nomor satu di Kabupaten Batang Hari akan mengunjungi Desa – desa tersebut untuk mengeruk suara sebanyak-banyaknya, nggak perduli kondisi menuju kesana sangat sulit dan memprihatinkan yang penting dapat suara nantinya, yang lainnya nggak perduli deh.

Itulah kini, Batang Hari ku, kondisi mu yang membuat jeritan di sanubari rakyatmu yang tak sanggup terlontarkan “selemah-lemah iman, cukup bicara dalam hati”.

Siapakah calon pemimpin selanjutnya yang benar-benar bertujuan merubah, membangkitkan kemakmuran rakyat nya, kemajuan bagi daerah nya yang bisa menjadi percontohan daerah lain, disegani kawan maupun lawan.

Kemakmuran, kesejahteraan rakyat, salah satunya adalah infrastruktur jalan, jembatan, jika itu terwujud maka kesejahteraan para petani yang notabene Desa dihuni oleh kurang lebih 76% penduduknya bertani dan berkebun akan menjadi sejahtera.

Mari kita bijak memilih pemimpin yang tidak mengingkari janji nya tapi yang mau benar-benar mengabdi, membangun demi kejahteraan rakyatnya, bukan demi diri dan kelompoknya dan mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan diri dan kelompoknya. (*)