TUNTUTAN SENGKETA TANAH AHLI WARIS DIPERJUAL BELIKAN, HAK AHLI WARIS “MAK OMBAH” DIABAIKAN

Spread the love

Global Hukum Indonesia, Bandung – Massa yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan dari ormas BBC/Phantom berjumlah sekira 30 orang yang berada di sekitaran wilayah proyek KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) yang berlokasi di kilometer 150 tepatnya di kampung Babakan Sayang, Desa Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat mengawal anggotanya sehubungan dengan permasalahan Tanah Waris. Rabu, 29/07/2020 pukul 15:00 Wib.

Tanah waris yang diperebutkan dekat wilayah KCIC itu adalah ahli waris bersaudara yaitu Asep Saepudin yang mewakili Mak Ombah dengan Endi Rohendi bersaudara.

Asep Saepudin menceritakan sebab dari kerumunan massa yaitu “keinginan kami dari para ahli waris adalah mendapatkan hak waris yang adil tanpa harus menghilangkan hak waris yang lainnya. Saya selaku perwakilan dan keluarga dari ahli waris Mak Ombah yang telah dihilangkan haknya, meminta untuk diberikan hak kami dari ahli waris Endi Rohendi bersaudara, dikarenakan tidak ada penyelesaian kekeluargaan maka kami selaku ahli waris dari Mak Ombah akan menyelesaikannya dengan cara jalur hukum”, katanya.

Sambung Asep Saepudin “dikarenakan tuntutan kami tidak diindahkan, saya dengan rombongan saya datang kemari akan mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Bale Bandung, dan telah juga melaporkam ke Polda Jabar, Alhamdulilah proses penyidikan di Polda Jabar masih berjalan sampai saat sekarang ini dan ada pun terkait gugatan yang telah kami ajukan di Pengadilan Bale Bandung mendapat putusan kemarin Hari Selasa, 28/07/2020, Alhamdulilah dengan ijin tuhan yang maha esa dengan hasil draw”, paparnya.

“Dan saat ini saya masih memegang surat letter C, tapi tanah waris ini yang belum selesai perkaranya diperjual belikan oleh pihak ahli waris Endi Rohendi tanpa melibatkan kami yang juga ahli waris dan masih memegang surat letter C, itulah awal kami melaporkan ke ranah hukum dan hari ini saya dan rombongan datang kesini untuk memperjelas status tanah waris ini masih dalam sengketa”, ungkap Asep Saepudin. (yudhi dewa)

Leave a Reply